Diupah 40rb/hari, Buruh Karet Sekolahkan Putrinya

30 Jun 2021
Rp 50,000 Terkumpul
Rp 50,000,000 Target Donasi
Donatur 1 Orang
Sisa Hari 0 Hari Lagi

Informasi Penggalang Dana

Mandiri Bersama Akun Terverifikasi

“Harus gimana lagi mas, Putri pengen terus sekolah, sementara keadaan keluarga pas-pasan. Dari hasil kerja jadi buruh kebun karet ya segitu, kadang sedih pengen nangis. Tapi kalo melihat semangat Putri pas belajar dan selalu rangking di kelas, jadi hiburan dan bangga melihatnya.” Ucap ibu Kasiati.

Aisila Naila Putri, atau biasa dipanggil dengan Putri (11 ) saat ini Ia duduk di kelas 5 SD Sukamade. Sejak pagi buta Putri berangkat sekolah dengan menahan dinginnya udara di tengah rimbunnya hutan Banyuwangi.

Jaraknya pun lumayan jauh dengan medan jalan setapak dan bebatuan. Terlebih Ia harus melewati 2 sungai besar dengan mempertaruhkan nyawa. Jika musim banjir tiba, ia tak berani untuk pulang dan menginap di rumah saudara.

Putri bercerita kalau dulu pernah hanya menggunakan sepatu bekas pemberian dari saudara untuk sekolah karena orang tua tidak punya uang dan habis untuk berobat sang Ayah yang sakit komplikasi. 

Semenjak sang Suami meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Bu Kasiati (46) bingung dan sedih harus menghidupi keluarga seorang diri. Belum lagi penghasilan yang didapat dari buruh kebun karet hanya sekitar 40 ribu/hari, itu pun harus dibagi untuk bayar hutang ke warung tetangga.

Sejak pukul 4 subuh, Ibu Kasiati harus menahan rasa kantuk untuk pergi bekerja sebagai buruh penyadap pohon karet. Hanya mengandalkan senter dan alat penyadap, Ia harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer menyusuri hutan Taman Nasional Meru Betiri Banyuwangi.

Kondisi tersebut diperparah tatkala musim hujan, sehingga membuat jalan setapak yang biasa Ia lewati menjadi licin dan membahayakan keselamatannya. Karena hanya dengan mencari getah pohon karet tersebut, menjadi tumpuan dan harapan untuk menghidupi keluarga yang amat dicintainya. 

Keadaan sulit serupa juga dikeluhkan adik Hera yang kini menginjak usia 9 tahun. Dengan penuh perjuangan Ia menjadi satu-satunya harapan keluarga setelah kepergian sang Ibunda untuk selamanya. 

“Kalau besar nanti mau jadi dokter biar kakek sama nenek bangga dan bantu orang sakit agar cepat sembuh. Makanya hera belajar yang rajin dan tekun agar tercapai cita-citanya.” ucapnya.

Bukan tanpa sebab, lahir dari keluarga yang serba kekurangan mengharuskan adik Hera ingin melanjutkan sekolahnya. Hanya Kakek dan Nenek yang merawatnya sejak kecil, membuat dirinya tak pernah melihat kedua orang tuanya termasuk Ayah yang bekerja di Pulau Dewata.

Ibu Misiyem, nenek Hera (47 tahun), hanya bekerja sebagai buruh perkebunan karet dengan penghasilan 40 ribu/perhari. Berangkat bekerja pukul 6 pagi sampai jam 11 siang, bersama sang Suami. 

Melalui program Pendidikan Yatim Mandiri, kami mengajak Anda untuk ikut menyalurkan biaya pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa di seluruh Indonesia.

Sahabat, mari bantu jutaan anak Yatim dan dhuafa lainnya untuk tetap terus bersekolah dan wujudkan mimpinya dengan cara:

  1. Klik “DONASI SEKARANG”;
  2. Masukan nominal donasi;
  3. Pilih bank (GO-PAY/BNI/BNI Syariah/Mandiri/BCA/BRI/Kartu Kredit);
  4. Dapatkan laporan melalui email.

Tidak hanya berdonasi, Sahabat juga bisa membantu dengan cara menyebarkan halaman galang dana ini ke orang-orang terdekat agar semakin banyak orang yang ikut membantu.

InsyaAllah program ini dapat menjadi amal jariyah bagi kita dan bisa membantu yatim dan dhuafa bisa terus lancar bersekolah. Aamiin.

Donatur

  • Anonim25 Jul 2021
    Rp 50,000